Zona Merah

Zona Merah ? Saya rasa tidak.

Zona Merah ? Saya rasa tidak.

Bukankah kalau dinyatakan zona merah artinya masih ada kasus Covid-19 pada satu atau lebih klaster dengan peningkatan kasus yang tinggi. Tapi saya rasa Aceh Tamiang, Aceh Utara, Lhokseumawe, Bener Meriah, Gayo Lues, Pidie, Banda Aceh, Aceh Barat Daya, dan Simeulue (yang kata Berita dibilang Zona Merah) tidaklah cocok dikatakan Zona Merah, karena tempat ibadah dibuka kok , bisnis juga berjalan, tidak ada karantina serius lagi kok bagi komunitas yang (dulu katanya) telah terinfeksi virus corona, tidak ditemukan transmisi lokal di beberapa daerah di Aceh yang disebut Pemerintah Pusat berstatus zona merah tadi, dan tidak ada kan lonjakan warga yang berstatus ODP, PDP, apalagi positif corona di 9 daerah Aceh tersebut, hasil swab saja tidak konsisten setelah uji swab semua negative, hadeuhh…. ,

Baiklah, banyak orang bicara ini itu, Saya Fitri mau juga deh bicara ya, kan Freedom of Speech hehehhehehe,bolehkan, apalagi kan Saya Kordinator Relawan Covid-19 Gerakan Independen , satu-satunya Gerakan Relawan yang ada di Indonesia yang membuka posko di Bireuen,Aceh yang telah menyalurkan 260 Paket “Sembako Lengkap” untuk masyarakat di Bireuen ( ehhmm Sombong heheheh)gak kok, gak sombong , tapi benar adanya teman teman saya se Indonesia bilang , gak ada sejak Februari sampai sekarang gerakan independen putra putri Indonesia yang berani membuka Posko ditengah wabah ini, Alhamdulillah saya didukung banyak pihak , senior, pembina dan kami semua sudah berjumlah 70 relawan.
Begini…. kembali ke pembahasan Zona Merah, saya pribadi ga setuju 9 daerah tadi dinyatakan Pemerintah Zona Merah, walaupun sebenarnya Alhamdulillah saya berada di Bireuen yang dinyatakan daerah Zona Hijau, tapi saya sangat tidak setuju lah 9 daerah itu dibilang Zona Merah di surat edaran. Karena saya rasa Aceh aman- aman aja kok, semua diseluruh Aceh masyarakatnya masih shalat di Mesjid dan tidak terdapat lonjakan kasus pasien yang positif, dan saya perhatikan pun aktivitas seperti biasa juga sudah bisa berjalan dengan normal.
Namun, saya tetap setuju jika kita semua masyarakat Aceh tetap perlu selalu memiliki kesadaran untuk meningkatkan jarak sosial, cuci tangan, etika bersin dan membatasi perjalanan hanya untuk tujuan penting saja, apalagi pakai masker, wajib itu menurut saya.

Berita tentang virus corona di Indonesia masih terus dibicarakan sehingga pemerintah melakukan beberapa upaya untuk menekan kasus Covid-19. Hanya menekan kasus covid-19, bukankah Pemerintah (kayaknya menurut saya dengan anggaran yang ada) bisa mencari tahu dan mengupas virus corona?
Maksud saya apa? Gini ni…dengan Anggaran yang sangat banyak bukankah kita di Indonesia ini bisa mengadakan dengan rapi , dengan sangat safety, dengan internal , dengan sangat hati- hati melakukan otopsi untuk pasien yang (diduga) meninggal yg di Indonesia karena virus corona, otopsi itukan prosedur medis yang dilakukan untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh pada tubuh orang yang telah meninggal. Prosedur ini kan bisa dilakukan untuk mengetahui penyebab orang tersebut meninggal kan, jadi ….kita di Indonesia mungkin kan bisa melaksanakan otopsi pribadi dengan alasan kematian terjadi selama proses pengobatan eksperimental atau penelitian walaupun dengan diam diam, sebenarnya saya rasa Indonesia bisa membuktikan dengan kehebatan dunia kesehatannya tentang virus corona yang merenggut pasien pasien (yg diduga) meninggal karena covid-19, jangan hanya percaya ahli Dunia yang dari luar sana, atau WHO yang juga organisasi kesehatan yang dibuat manusia seorang Hamba juga kan yang didirikan seumuran nenek saya (lahir nya tahun 1948), walaupun maaf kalau seandainya setelah otopsi kita mengorbankan 2 atau 3 orang dokter, daripada mengorbankan 300an juta masyarakat Indonesia yang terkena kebijakan- kebijakan yang merugikan dari Pemerintah atau dari Dunia yang plin plan, yang hari ini mengeluarkan himbauan A, sore himbauan B, lusa berubah lagi jadi himbauan C. Kebijakan yang membuat ekonomi dan kenyamanan kita sangat terganggu. Karena saya rasa Indonesia kan negara keempat terbanyak penduduk nya, Indonesia kan negara kepulauan terbesar didunia, dan anggaran untuk kasus covid-19 kan ada lebih 600 Triliun, kayaknya boleh boleh sajalah kita “Indonesia” melakukan penelitian dan pembuktian sendiri tentang virus corona. Sebagaimana dokter- dokter jagoan kita juga melakukan penelitian ulang tentang penyakit TBC, Virus Cacar, Malaria, AIDS , dll. Yaaaaaahhh, gatau juga sih, apa 600 Triliun itu sengaja ditunggu- tunggu Dunia (dari Indonesia) untuk bisnis alat kesehatan dll, atau memang anggaran itu , anggaran (dana dari pusat lah, dana APB apalah namanya dana yg sudah di refocusing lah) yang bisa diambil seenaknya karena utk Program Darurat Bencana NonAlam, apalagikan Aceh terbesar nomor lima anggaran untuk kasus Covid-19 di Indonesia, 17 Triliun….Entahhlaahh Wallahualam. Saya cuma sangat menyayangkan masyarakat yang sangat terkena dampak dari kebijakan pada kasus Covid-19 ini, belum lagi masyarakat yang menjadi lebih panic setelah adanya pemberitaan dirumah saja, kuburan massal lah, sempat juga ada pemberlakuan jam malam lah, dan kebijakan-kebijakan lain, yang malah sangat menganggu kesehatan masyarakat karena dibuat panic. Kenapa tidak Indonesia ini melakukan secara internal penelitian mendalam dengan Anggaran 600 Triliun, gausahlah 600 T, kan bisa ambil sedikit untuk fasilitas otopsi yang sangat safety, yang alat pelindung dirinya dibuat sangat khusus, ruangan otopsi dibuat seolah olah anti peluru lah gitu, dindingnya dari bahan kayak kayak baju anti peluru, dinding tebal dari unsur Aluminia lah, , Aramid lah, Kevlar lah, seperti bahan Vestran lah atau apalah namanya ( hehehehhehe, menghayal kemana nih Fitri, jauh bangett). Kenapa kok jadi kesini ya hehehehhehe, Giniii…menurut saya kan akhir-akhir ini sudah banyak kabar, berita dan video bahwa banyak keluarga yang ragu dan yang dianggap saudaranya , orang tuanya meninggal karena positif Covid-19, sehingga mereka tidak bisa melihat apalagi mencium jenazah untuk terkahir kalinya, menyedihkan sekali bukan, coba bayangin kalau itu yang meninggal org tersayangnya kita. Ya Allah, Naudzubillahmindzalik. Nah yang sebelum-sebelum nya ada bbrapa pasien di Pulau Jawa meninggal karena positif Covid-19, padahal kebanyakan itu kan lansia yang memang ada penyakit sebelumnya, sama dengan banyaknya kasus kematian masyarakat Indonesia karena TBC, apalagi malah paling banyak persentase masyarakat Indonesia meninggal malah karena stroke, jantung coroner, diabetes mellitus dll. Kalaulah 1.800 orang Indonesia yang sudah meninggal karena Covid-19 , itu kan Cuma 0, 00 sekian persen dari 300juta penduduk Indonesia, malah lebih banyak persentase kematian masyarakat karena TBC (kalau penyakit menular) , karena stroke (kalau penyakit tidak menular) dan lah lebih banyak juga karena kecelakaan lalu lintas malah rata-rata 4 orang setiap jam di Indonesia meninggal karena kecelakan kata data kepolisian (baca dikominfo yah). Sebenarnya kembali ke pembahasan awal , Aceh tidaklah cocok dibilang daerah Zona Merah (menurut saya pribadi) InsyaAllah di Aceh baik- baik saja, aman aman saja, biarlah masyarakat kami kembali bekerja, biar perekonomian membaik, jangan buat masyarakat terbatas , berdampak , hingga lapar. InsyaAllah Aceh “Tanoh Mulia” , kita baik- baik saja, namun tetaplah Ikhtiar ya saudara. Udah dulu lah ya, makasiiii. Oia doakan kami ya Relawan Covid-19 bisa terus didukung oleh donator dan dermawan lainnya, doakan kami juga mudah-mudahan sembako yang mengendap di kantor sana dikasih ke kami, dan kami ( Relawan membantu ) salurkan kepada masyarakat yang layak menerima. (Aamiin Aamiin)

Fitri

https://www.facebook.com/msfitri.yani
Kordinator Relawan Covid-19.
Aceh.
(Gerakan Independen)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*